Serakah dlm islam
bismillah
orang islam boleh serakah dalam hal apa?
Dalam Islam, sifat serakah (tamak atau rakus) terhadap harta dan urusan duniawi secara umum sangat dilarang karena dianggap sebagai penyakit hati yang bisa merusak moral dan hubungan antarmanusia.
Namun, ada pengecualian di mana seorang Muslim justru dianjurkan untuk "serakah" atau tidak pernah merasa puas. Keserakahan yang diperbolehkan ini berfokus pada urusan akhirat dan perbaikan diri. Berikut adalah hal-hal di mana umat Islam boleh dan dianjurkan untuk serakah:
1. Menuntut Ilmu
Seorang Muslim tidak boleh merasa cepat puas dengan ilmu yang dimilikinya, baik itu ilmu agama maupun ilmu pengetahuan umum yang membawa manfaat. Dalam sebuah riwayat hadis (HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi), disebutkan bahwa ada dua golongan manusia yang rakus dan tidak pernah kenyang: orang yang rakus terhadap ilmu dan orang yang rakus terhadap dunia. Islam sangat mendorong umatnya untuk menjadi golongan pertama yang haus dan tidak pernah puas akan ilmu pengetahuan.
2. Mengumpulkan Amal Shalih (Kebaikan)
Dalam urusan berbuat baik, Islam mengajarkan konsep Fastabiqul Khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan). Seorang Muslim dianjurkan untuk "serakah" dalam mengumpulkan pahala. Ini berarti tidak pernah merasa cukup saat bersedekah, membangun fasilitas umum, membantu orang yang kesulitan, atau memberikan tenaga dan pikiran untuk kebaikan masyarakat.
3. Beribadah kepada Allah
Rasa "serakah" untuk terus memperbaiki kualitas dan kuantitas ibadah adalah bentuk ketidakpuasan spiritual yang sangat positif. Keinginan untuk terus menambah shalat sunnah, memperbanyak puasa, membaca Al-Qur'an, dan berdzikir karena merasa amalannya masih sangat kurang adalah sikap yang sangat dipuji dalam Islam.
4. Memohon Ampunan dan Bertaubat
Seorang Muslim dianjurkan untuk tidak pernah merasa cukup dalam memohon ampunan (istighfar). Kesadaran bahwa manusia tempatnya salah dan lupa harus memunculkan rasa "serakah" untuk terus-menerus meminta ampunan dan bertaubat kepada Allah setiap saat.
Kesimpulan
Batasannya sangat jelas: Keserakahan material (duniawi) itu merusak, sedangkan keserakahan spiritual (ukhrawi) itu membangun. Jika rakus pada harta benda akan membuat seseorang menjadi egois dan kikir, maka "rakus" pada ilmu, ibadah, dan amal kebaikan justru akan mencerdaskan, melembutkan hati, dan membawa manfaat sosial yang besar bagi lingkungan sekitarnya.
Komentar
Posting Komentar