Tanya AI

bismillah.


syarat khusus masuk syurga tanpa hisab dan tanpa diazab?


Jaminan untuk masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab adalah karunia luar biasa yang dikhususkan bagi sekelompok orang dari umat Nabi Muhammad SAW.

Golongan ini diceritakan dalam hadits sahih yang masyhur, yang intinya menunjukkan kesempurnaan iman dan tawakal mereka kepada Allah SWT.

Hadits Kunci

Rasulullah SAW bersabda:

"Tujuh puluh ribu orang dari umatku akan masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab."

Para sahabat bertanya, "Siapakah mereka, wahai Rasulullah?"

Beliau menjawab: "Mereka adalah orang-orang yang tidak minta diruqyahtidak melakukan tathayyur (menganggap sial), tidak minta di-kay (pengobatan dengan besi panas), dan hanya kepada Rabb merekalah mereka bertawakal." (HR. Bukhari dan Muslim)

Meskipun hadits ini menyebut angka 70.000, riwayat lain menyebutkan bahwa jumlah tersebut sangat banyak, karena setiap seribu orang dari mereka membawa 70.000 orang lagi, atau tambahan "tiga cidukan Allah", yang menunjukkan bahwa jumlah pastinya hanya diketahui oleh Allah SWT.

Syarat Khusus Golongan Tersebut

Berdasarkan hadits di atas, syarat utama agar seseorang termasuk dalam golongan istimewa ini adalah menyempurnakan tauhid (keyakinan akan keesaan Allah) melalui sikap tawakal yang sempurna.

Syarat-syarat yang menjadi ciri khas mereka adalah sebagai berikut:

1. Tawakal Sempurna

Ini adalah pondasi dari semua ciri lainnya. Mereka adalah orang-orang yang sepenuhnya bergantung dan menyerahkan segala urusan hidup mereka hanya kepada Allah SWT.

Sikap tawakal yang murni ini menghasilkan ketenangan jiwa, kepasrahan total, dan keyakinan mutlak bahwa segala sesuatu terjadi atas izin dan kehendak-Nya. Mereka berusaha dan berikhtiar (melakukan sebab-akibat), namun hati mereka tidak pernah bergantung pada usaha itu, melainkan kepada Dzat yang menciptakan usaha.

2. Tidak Minta Diruqyah (Laa Yastarqun)

Mereka tidak meminta orang lain untuk meruqyah mereka. Hal ini bukan berarti ruqyah (bacaan doa/ayat Al-Qur'an untuk pengobatan) itu haram, karena ruqyah yang syar'i (sesuai tuntunan Islam) hukumnya boleh.

Namun, sikap tidak meminta ruqyah adalah wujud dari kesempurnaan tawakal dan harga diri yang tinggi, di mana mereka menghindari meminta bantuan dari makhluk (manusia) dan hanya bersandar langsung kepada Allah SWT untuk kesembuhan.

3. Tidak Melakukan Tathayyur (Laa Yatathayyarun)

Mereka tidak beranggapan sial atau bernasib buruk karena melihat, mendengar, atau mengalami suatu kejadian tertentu (misalnya, melihat burung terbang, mendengar suara binatang, atau kejadian alam lainnya).

Tathayyur (atau tilik nasib/ramalan) dianggap merusak tauhid, karena ia menyandarkan takdir kepada selain Allah. Golongan ini meyakini bahwa segala nasib baik dan buruk berasal dari Allah SWT semata.

4. Tidak Minta Di-Kay (Laa Yaktasuun)

Mereka tidak meminta untuk diobati dengan kay (pengobatan tradisional dengan membakar bagian tubuh yang sakit menggunakan besi panas).

Meskipun pengobatan kay ini pernah disinggung oleh Nabi SAW dan hukumnya boleh, Nabi SAW memuji orang-orang yang meninggalkannya karena ia menunjukkan keengganan untuk bersandar pada pengobatan yang ekstrem dan menyakitkan, sebagai bentuk lain dari menyempurnakan tawakal.

Singkatnya, jalan menuju surga tanpa hisab adalah melalui pemurnian Tauhid dan mencapai derajat Tawakal yang paling tinggi kepada Allah SWT.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rule of 10

Tanggung Jawab

Parameter kehidupan