Apa yg dilalaikan?

 Bismillah


Menurut surat al qiamah ayat 13, apa sebetulnya yang dilalaikan manusia? Bagaimana kita bs memperbaiki kelalaian itu di hari ini ?


Dalam Surat Al-Qiyamah ayat 13, Allah SWT berfirman:

$$\text{يُنَبَّؤُاِ الْاِنْسَانُ يَوْمَىِٕذٍۢ بِمَا قَدَّمَ وَاَخَّرَ}$$

"Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya."

Secara tekstual, kata وَأَخَّرَ (wa akhkhara) sering diterjemahkan sebagai "apa yang dilalaikan," "apa yang diakhirkan," atau "apa yang ditinggalkan."


Apa Sebetulnya yang Dilalaikan Manusia?

Menurut para ahli tafsir (seperti Ibnu Katsir dan Ath-Thabari), makna dari hal yang dilalaikan atau diakhirkan ini mencakup beberapa hal krusial:

  • Kewajiban yang Ditunda-tunda: Amal saleh yang seharusnya bisa dilakukan di awal waktu atau saat kesempatan ada, namun terus ditunda (prokrastinasi spiritual) hingga akhirnya ajal menjemput sebelum sempat dikerjakan.

  • Dampak Buruk yang Ditinggalkan: Perbuatan dosa atau kebiasaan buruk yang diinisiasi oleh seseorang, lalu ditiru oleh orang lain, sehingga dosanya terus mengalir bahkan setelah ia wafat.

  • Hak Orang Lain yang Diabaikan: Hak-hak Allah (seperti zakat, nazar) atau hak sesama manusia (seperti nafkah, utang, atau bantuan sosial) yang sengaja diakhirkan penyelesaiannya.

Secara esensial, yang dilalaikan manusia adalah prioritas abadi (akhirat) demi mengejar kesenangan yang fana (dunia). Manusia sering terjebak dalam illusion of time—merasa waktu hidupnya masih panjang.


Bagaimana Kita Bisa Memperbaiki Kelalaian Itu Hari Ini?

Untuk memutus rantai kelalaian tersebut di tengah kesibukan hidup modern, ada beberapa langkah taktis dan filosofis yang bisa kita terapkan hari ini:

1. Terapkan Prinsip At-Taqdim (Mendahulukan yang Utama)

Lawan dari akhkhara (mengakhirkan) adalah qaddama (mendahulukan).

  • Caranya: Buat skala prioritas yang tegas. Ketika masuk waktu ibadah atau ada kesempatan berbuat baik, eksekusi saat itu juga. Jangan biarkan mental dialog menunda-nunda amal saleh. Jika ada urusan hak sesama manusia (seperti utang atau janji), selesaikan di kesempatan pertama.

2. Evaluasi Harian (Self-Accounting / Muhasabah)

Sebelum tidur malam ini, luangkan waktu 5–10 menit dalam keheningan total untuk melakukan audit personal.

  • Pertanyaan reflektif: "Apa saja yang sudah saya kejar hari ini? Apakah tindakan saya hari ini mendekatkan saya pada visi jangka panjang (akhirat), atau hanya menghabiskan energi untuk hal-hal yang akan sirna?"

3. Fokus pada Kualitas, Bukan Sekadar Kuantitas (Deep Work Spiritual)

Daripada terjebak dalam rutinitas ibadah yang superfisial atau terburu-buru karena terdistraksi urusan dunia, bangun momentum ibadah yang mendalam.

  • Caranya: Dedikasikan waktu khusus tanpa gawai (zero distraction) untuk beribadah, membaca, atau merenung. Ketenangan pikiran (khusyuk) membantu kita melihat dengan jernih mana hal yang benar-benar esensial dan mana yang hanya sekadar "kesibukan palsu".

4. Tinggalkan Legacy yang Baik

Karena wa akhkhara juga berarti apa yang ditinggalkan setelah mati, pastikan apa yang kita wariskan hari ini—baik ilmu, didikan kepada anak, sistem kerja, maupun kontribusi sosial—adalah hal-hal yang mendatangkan jariah kebaikan, bukan jariah dosa.


Hari ini adalah satu-satunya modal nyata yang kita miliki. Kemarin sudah menjadi masa lalu yang tidak bisa diubah, dan esok hari belum tentu menjadi milik kita. Memperbaiki kelalaian dimulai dari keputusan kecil untuk hadir sepenuhnya dan memilih apa yang benar-benar bernilai dalam setiap detik yang kita lalui.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rule of 10

Tanggung Jawab

Hijab Realitas